Keluarga dan Kesehatan Mental

Keluarga dan Kesehatan Mental. gambar istimewa

NASIONAL – Pada zaman milenial ini banyak sekali remaja-remaja yang terkena Mental illness, atau yang biasa disebut dengan gangguan mental. Kesehatan mental itu sangat perlu untuk dijaga, karena dengan menjaga kesehatan mental kehidupan akan normal dan tentram. Kesehatan mental itu sendiri adalah dimana kondisi seseorang yang sejahtera, normal dan tentram di dalam dirinya.

Dan sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa kesehatan mental itu adalah hal yang tabu, mereka berkata bahwa kalau terkena gangguan mental itu karena kurang beriman, dan kurang bersyukur. Padahal orang yang terkena gangguan mental itupun tidak mau berada di posisi tersebut, banyak dari mereka yang melakukan berbagai hal seperti menyakiti dirinya sendiri untuk mengurangi rasa depresi, terkena gangguan jiwa bahkan ada juga yang mengakhiri hidupnya angka kematian akibat bunuh diri mencapai 80.000 hingga 1 juta jiwa setiap tahunnya. 80% hingga 90% dari angka kematian tersebut disebabkan oleh depresi.

Rata-rata pasien poli jiwa itu adalah remaja yang berumuran 19 tahun dan 20 tahunan, Kesehatan mental pada remaja saat ini sedang di uji habis-habisan penyebabnya bisa berasal dari faktor tuntutan sosial, lingkungan terdekat dan keluarga, ciri-ciri orang yang terkena gangguan mental yaitu merasa sedih berkepanjangan, mati rasa, tidak perduli dengan lingkungan sekitar, merasa lelah yang signifikan, perubahan suasana hati yang ekstrim, perubahan pola makan dan tidur, kurangnya motivasi, menarik diri dari lingkungan sosial dan kegelisahan atau ketakutan yang berlebihan. Dan para remaja sekarang sudah aware dengan kesehatan mental namun keluarga atau orang tua belum tentu tahu dan jika mereka tahu pun belum tentu mereka peduli dengan kesehatan mental.

Yang menjadi permasalahannya adalah sudut pandang orang tua atau keluarga tentang kesehatan mental dan cara mereka menyikapinya, karena kalau mereka tidak bisa menyikapi kesehatan mental itu dengan baik pastinya itu akan menjadi masalah.

Keluarga adalah contoh atau panutan untuk anak dan kita harus tau juga bagaimana orang tua atau keluarga cara memeperlakukan si anak ini bagaimana? Apakah dengan baik, dengan kasih sayang atau tidak dan sebaliknya seperti kasar, memaki-maki dan abusive. Jadi itu juga yang perlu diperhatikan yaitu perilaku dan kebiasaan orang tua dan anggota keluarga lainnya di rumah, karena kalau perilaku mereka tidak baik otomatis itu bisa menjadi pemicu penyebabnya kesehatan mental anak.

Lalu kebiasaan atau aktivitas sehari-hari orang tua atau keluarga itu bagaimana? Apakah dia dari keluarga yang konservatif, dari keluarga yang taat agama, dari keluarga yang biasa-biasa saja atau dari keluarga yang abusive. Karena kebiasaan atau rutinitas seseorang itu juga bisa mempengaruhi orang lain, baik itu dilingkup keluarga ataupun dilingkup sosial.

Dengan rutinitas itu kita bisa menilai orang, contohnya dia berasal dari keluarga yang taat agama atau keluarga yang konservatif tapi si anak tersebut merasa tidak bahagia, tertekan dan sebagainya. Bagaimana bisa keluarga yang taat agama atau keluarga yang harmonis, bisa membuat sang anak tidak merasakan bahagia dan tertekan? Itu yang perlu diperhatikan juga.

Selanjutnya yaitu kesehatan mental keluarga itu sendiri, kita tidak bisa berbicara tentang Kesehatan mental si anak jika kita tidak tahu kesehatan mental orang tua atau keluarganya bagaimana? Karena kita terlahir sehat secara fisik dan mental tapi orang tua kita tidak, jadi bisa saja orang tuanya itu sendiri punya gangguan mental.

Jadi kita juga perlu memperhatikan kesehatan mental orang tua dan keluarga. Karena orang tua berperan besar dalam pembunuhan mental seorang anak yang menyebabkan si anak trauma dan ketakutan berada dirumah yang seharusnya tempat di mana ia merasa aman dan nyaman.

Penulis: Dwika Aulia Rahmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *