Terbitkan Buku Polima, AS Tamrin: Sudah Dikaji

CEKFAKTA.CO.ID,. BAUBAU – Polima kini telah tertuang didalam buku yang berjudul “Polima Dalam Perspektif Pendidikan”. Dalam waktu dekat, buku itu secara masif bakal disebar ke sekolah-sekolah sebagai pedoman. Penggagasnya tidak lain adalah Wali Kota Baubau Dr. H. AS Tamrin, MH.

Orang nomor satu di Baubau itu mengatakan buku Polima hadir sebagai salah satu wujud kepedulian, bagaimana membangun daerah ini. Nilai-nilai yang terkandung didalam Polima tuntas dibahas dalam buku itu.

Iklan Muna

Buku itu diterbitkan sebagai salah satu wujud membumikan Polima agar generasi-generasi milenial kedepannya bisa paham bagaimana implementasi nilai-nilai budaya lokal yang sudah ada sejak lama dijadikan pedoman dalam segala aspek.

“Tujuan saya menggemakan Polima ini untuk kedamaian dan kekompakan agar masyarakat merasakan aman dan nyaman. Selain itu untuk membangun Kota Baubau yang maju sejahtera dan berbudaya,” ucap AS Tamrin dalam kegiatan bedah buku Polima Dalam Perspektif Pendidikan, di aula Kantor Wali Kota Baubau, Jum’at (15/10)

Kata Wali Kota dua periode ini, nilai-nilai yang ada dalam Polima bisa melekat di berbagai aspek. Hal itu sudah dikaji. Baik itu dari aspek pendidikan, birokrasi, keluarga, lingkungan sosial bahkan pada perspektif moral karakter.

“Olehnya, semuanya pas bila melekatkan nilai-nilai Polima,” ujarnya.

AS Tamrin menjelaskan Polima di elaborasi dari sara pataanguna dengan kepemimpinan Polima. Ada yang namanya kepemimpinan strategis, kepemimpinan demokratis dan lain-lain.

Di Baubau sendiri dikenal dengan kepemimpinan Polima. Polima rujukannya diangkat dari nilai-nilai budaya lokal. Dimana ada satu nilai yang tersirat karena dia sumber dari nilai kejujuran yaitu binci-binciki kuli.

Binci-binciki kuli adalah causa prima. Dalam tataran implementasi dia ( binci-binciki kuli) menjadi Po binci-binciki kuli dalam Polima. Sebab didalamnya mengandung filsafat rasa, sindiran atau ungkapan sehingga berfungsi timbal balik.

“Po binci-binciki kuli itu artinya saling mencubit kulit. Nah, maknanya kalau tidak mau dicubit, ya jangan cubit orang. Kalau tidak suka difitnah, jangan fitnah orang. Itu intinya. Kejujuran ketulusan keikhlasan di dalam batin kita adalah yang utama menurut saya,” tandas doktor lulusan Lemhannas ini.

Laporan : JSR

Editor : YUSRIF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *